Selasa, 04 Januari 2011

KELUARGA KRISTEN

KELUARGA KRISTEN

1. Tekanan pada Keluarga
Ada banyak tekanan dan pengaruh pada keluarga modern. Tekanan itu termasuk:

Tuntutan:
·                     Pekerjaan - jam kerja yang lebih lama, kurang ketenangan kerja
·                     Rekreasi - banyak pilihan
·                     Kegiatan anak - bagian dari membantu anak untuk berhasil
·                     Kegiatan gereja - anggota gereja mempunyai waktu yang kurang.
·                     Waktu yang digunakan - kegiatan dan perjalanan menghabiskan waktu
·                     Keluarga luas - juga menuntut.
Suara-suara dan nilai-nilai (yang sering bertentangan dengan iman Kristen):
·                     TV
·                     Agama lain
·                     Humanisme
·                     Materialisme
·                     Globalisasi
·                     Hedonisme
Tekanan Lain
·                     Kehidupan keluarga yang berpusat pada anak - kehidupan dan artinya dicari dari kehidupan dan kesuksesan anak-anak
·                     Kehilangan tanggung jawab untuk anak-anak - (ke negeri, sekolah, gereja).
·                     Patriarkat dan feminisme
·                     Ketakutan dan ketidakamanan
·                     Keinginan untuk maju dan meningkat

Semua tekanan ini berpotensi untuk mengubah cara sebuah keluarga berlaku, dan dengan demikian mengubah sifat keluarga itu. Jika kita mengerti landasan alkitabiah keluarga, kita dapat menentang lebih baik tekanan tersebut.
2.  Apa itu Keluarga?
Salah satu definisi “keluarga” di Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, “Ibu dan bapak beserta anak-anaknya.”. Definisi ini sama mirip dengan ide di dunia barat yang berbahasa Inggris.  Akan tetapi keluarga inti (atau batih, “nuclear family”) adalah fenomena modern yang mulai sebagai akibat urbanisasi sesudah revolusi industri.

Definisi lain di KBBI lebih dekat ke ide di Alkitab, misalnya, “seisi rumah”, “orang seisi rumah yang menjadi tanggungan”.

2.1 Keluarga di Perjanjian Lama
Tidak ada kata untuk “keluarga”  di PL bahasa Ibrani yang dapat disamakan secara tepat dengan kata modern, “keluarga inti”. Beberapa kelompok sosial digambarkan sebagai “suku”, dan menggambar asal etnik. Kata umumnya  (beth ab = rumah ayah) dapat berarti keluarga inti yang tinggal di rumah yang sama (Kej 50.7-8); kelompok sanak yang lebih besar/luas termasuk dua atau lebih generasi (Kej 7.1; 14.14); dan juga sanak dengan berarti lebih luas (Kej 24.38). Kata lain menunjuk ke kelompok sanak yang besar dan kadang-kadang diterjemahkan sebagai “kaum” (Bil 27.8-11).

Pada kenyataannya, keluarga-keluarga yang digambarkan di PL adalah rumah tangga yang mempunyai seorang lelaki pada pusat kehidupan keluarga. Rumah tangga terdiri atas semua orang, anak-anak, kerabat lain, pelayan-pelayan dan orang lain yang tinggal di rumah. Sebelum masa Daud, hidup keluarga difokuskan pada keperluan umum yaitu pekerjaan, makanan, dan perlindungan. Rumah tangga adalah tempat dimana pendidikan, sosialisasi, dan pendidikan agamani, terjadi.

Walaupun ada kekuatan-kekuatan di pola hidup ini, ada banyak penyalahgunaan, dan banyak contoh keluarga yang fungsinya terganggu di PL (misalnya keluarga Ishak, Yakub, Daud).

Sentralisasi  negara di Yerusalem di bawah Daud dan Salomo menjadi perubahan serupa dengan yang terjadi di peradaban lain.  Ada pemindahan kekuasaan dari kepala keluarga ke penguasa di pusat. Keluarga harus menyumbang ke keperluan umum (seperti Samuel mengatakan bahwa mereka harus melakukannya - 1 Sam 8.10-18). Kemudian, selama negara berjalan dari satu krisis ke lain, utang meningkat dan orang kaya membeli tanah orang miskin, dan lebih dari itu mereka membeli orang miskin itu sendiri (Yes 5.8-10; Am 2.6-8).

2.2 Keluarga di Perjanjian Baru
Keluarga Yahudi di PB tersusun seperti rumah tangga di PL. Ada tekanan pada asal etnik dan jabatan ayah. Keluarga Greco-Roman juga rumah tangga besar, yaitu rumah tangga termasuk semua orang yang tinggal di rumah. Tidak ada kata di bahasa Yunani yang dapat disamakan secara tepat dengan ide modern, “keluarga inti”.  Rumah tangga besar ini adalah satuan dasar masyarakat. Kata umum adalah “rumah” (oikos), atau frasa “kepunyaan sendiri”.

Di PB ada beberapa yang dinamakan ‘pedoman-pedoman kehidupan keluarga’  (Kol 3.18 - 4.1; Ef 5.21 - 6.9; 1 Pet 2.18 - 3.7;  1 Tim 2.8-15; 6.1-2; Tit 2.1-10).  Pedoman ini mungkin dimaksudkan untuk membantu anggota rumah tangga Kristen untuk hidup secara terterima sesuai dengan kebudayaannya. Di pihak lain kenyataan bahwa pedoman itu tertuju kepada para suami, istri, orang tua, anak, dan pelayan, menunjukkan bahwa ajaran Kristen khusus diterapkan ke kehidupan rumah tangga. Kita seharusnya memperhatikan bahwa bagian-bagian ini  tidak menunjukkan keluarga sebagai satuan, tetapi menunjukkan hubungan-hubungan yang beragam di dalam keluarga itu sendiri.

3. Pengertian Teologis Mengenai “Keluarga”
Memperhatikan bagaimana keluarga-keluarga di Alkitab terstruktur dan berlaku adalah bermanfaat.  Akan tetapi ini tidak memberitahukan kita semua yang kita perlu tahu tentang “keluarga”.  Sebuah petunjuk ini adalah pembahasan Paulus di Efesus 5. Tampak ada ketegangan di bagian ini antara kebiasaan patriarkal dan kesatuan teologis yang lebih mendasar antara suami dan istri. Kesatuan ini dapat dibandingkan dengan kesatuan Kristus dengan tubuhNya, jemaat itu.

3.1 Penciptaan Laki-Laki dan Perempuan
Dasar teologis untuk “keluarga” bukan kebapakan, walaupun kebapakan menjadi cara biasa untuk menggambarkan keluarga-keluarga.

Kejadian 1 menggambarkan penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan.

Kej 1:26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 27  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Manusia itu, yang baik laki-laki maupun perempuan, diciptakan menurut gambar Allah, atau sebagai gambar Allah. Artian ini dijelaskan di ay 26. Mereka akan berkuasa  atas segala binatang di bumi.

Ayat 28 memperpanjang perintah ini. Mereka harus beranakcucu dan bertambah banyak; dan memenuhi bumi dan menaklukkan  itu. Laki-laki dan perempuan itu bersama harus melakukan ini, karena laki-laki dan perempuan bersama adalah apa manusia adalah.

Kej 1:28  Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Kejadian 2 menggambarkan hubungan antara laki-laki  dan perempuan secara berbeda.

Kej 2:20  Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 21  Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22  Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23  Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 24  Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Perempuan itu dibangun sebagai satu-satunya penolong yang sepadan dengan manusia itu. Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja (ay 18), dan TUHAN memberikan seorang yang, tak serupa binatang, sepadan dengan dia. Sebenarnya manusia itu mengenal perempuan sebagai  hal yang sama dengan dia,  “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”. Akan tetapi perempuan tidak persis laki-laki, dia sepadan dengan dia.

Perempuan diberikan untuk menolong laki-laki. Itu tidak berarti bahwa perempuan lebih kuat atau lebih lemah daripadanya, melainkan bahwa apa yang dia perlu lakukan tidak dapat dilakukannya sendiri.

Perempuan itu dinamakan Ishshah oleh laki-laki itu. Di bagian ini kata untuk “manusia” dalam bahasa Ibrani adalah Adamsampai akhir ayat 23, sejak itu Ish dipakai. Dia adalah Ishshah untuk menggambarkan dari mana dia berasal. Perempuan tidak dibangun oleh manusia, tetapi dari manusia. Jadi di ayat 24,  Ish itu meninggalkan ayah dan ibunya dan melekat kepadaIshshahnya dan mereka menjadi satu daging.

Bagian itu menunjukkan bahwa sesuatu yang lebih dalam daripada hubungan kelahiran dibangun oleh kesatuan ini. Hubungan laki-laki dan perempuan sebagai satu daging berbeda dari hubungan orang tua dan anak.

“Meninggalkan” tidak semata-mata tentang perubahan tempat, melainkan lebih tentang perubahan prioritas-prioritas dan kewajiban-kewajiban. [Di masyarakat pedesaan, pasangan itu biasanya akan tinggal di tanah orang tua laki-laki.] Kewajiban utama manusiawi untuk suami tidak lagi kepada orang tuanya, tetapi kepada istrinya. Istrinya harus didahulukan daripada ibu dan ayahnya. Laki-laki harus meninggalkan semua kewajiban manusiawi yang akan menghalanginya memberikan kesetiaan pertama kepada istrinya. Dan hal yang sama berlaku bagi sang istri.

Bersatu, atau melekat, dengan isterinya”,  mengacu pada hubungan yang tetap. Itu mangacu juga pada keinginan dan birahi kuat dari suami kepada istrinya dan sebaliknya.

“Menjadi satu daging”,  tidak hanya mengacu pada kesatuan jasmani dan seksual. Frasa itu menggambarkan bahwa kedua itu kini berhubungan sebagai satu orang.

Dua bagian ini di Kejadian menggambarkan landasan hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan yang bebas dari sebagian besar struktur sosial di kemudian hari.

3.2 Pernikahan sebagai landasan untuk keluarga
Diskusi pernikahan tentang Kejadian 1 dan 2 menunjukkan bahwa dasar kehidupan keluarga dapat ditemukan dalam pernikahan antara laki-laki dan perempuan itu.

Salah satu pertanyaan yang timbul dari diskusi ini adalah apakah anak-anak penting dalam pernikahan.  Walaupun Kejadian 1 menjelaskan bahwa salah satu maksud manusia (yaitu laki-laki dan perempuan berserta), adalah bertambah banyak dan memenuhi bumi, hakikat pernikahan mereka adalah kesatuan bersama sebagai satu daging.  Anak-anak adalah buah dari kesatuan itu.

Jadi, ini mengingatkan kita bahwa kehidupan keluarga adalah pertama-tama kehidupan pernikahan. Pada kelekatan bersama antara laki-laki dan perempuan keluarga mempunyai hidupnya. Akan tetapi salah satu maksudnya adalah mendapatkan keturunan.

Kalau kita melihat ajaran Yesus tentang perceraian, jelas bahwa dia menegaskan kepentingan kesatuan dua orang dalam pernikahan, dan tidak ingin pernikahan itu dilemahkan dengan menganggap perempuan sebagai seorang yang dapat dibuang oleh permainan hukum.

Paulus juga berpandangan tentang pernikahan yang menegaskan kesatuan dan persamaan laki-laki dan perempuan sesungguhnya dalam pernikahan. Di 1 Korintus 7.1-5, dia mengatakan tentang salah satu bidang yang paling disalahgunakan dalam masyarakat patriarkal - yaitu seks. Di bagian ini Paulus menyebutkan dua hal yang menakjubkan. Satu adalah bahwa masing-masing berkuasa atas tubuh pasangannya. Tidak ada saran di sini bahwa suami memiliki hak atas tubuh istrinya yang tidak dimiliki istrinya atas tubuh suami. Hal kedua adalah bahwa keputusan tentang hubungan seksual harus diputuskan bersama. Bukanlah hak suami ataupun istri untuk memutuskan sendiri apakah mereka seharusnya menghentikan hubungan seksual.

Di Ef 5.21dst, Paulus mengajar secara tertulis para orang percaya, tentang bagaimana mereka seharusnya berhubungan. Di ayat 21 dia membuat pernyataan umum, kepada semua orang bahwa setiap orang seharusnya merendahkan diri, atau tunduk, kepada satu sama lain karena menghormati Kristus. Di ayat 22 dia tidak menggunakan kata kerja tetapi kita harus menggunakan kata kerja di ayat sebelumnya (yaitu kita harus mengerti kata kerja di ay 22 yang sama dengan kata kerja yang digunakan di aya 21).

Selanjutnya di 5.21 - 6.9 adalah kumpulan ajaran kepada beragam anggota  jemaat: para suami dan istri; orang tua dan anak-anak; hamba-hamba dan tuan-tuan. Dalam setiap hubungan berpasangan dia memberikan ajaran tentang bagaimana masing-masing seharusnya tunduk kepada lain.

Eph 5:21  dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. 22  Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23  karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24  Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 25  Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya  26  untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,  27  supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28  Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29  Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30  karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31  Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 32  Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 33  Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Istri tunduk kepada suaminya karena dia kepala yang menyerahkan hidupnya bagi sang istri. Suami harus tunduk kepada istrinya dengan mengasihinya seperti Kristus mengasihi Jemaat - dengan menyerahkan hidupnya bagi sang istri.

Anak-anak tunduk kepada orang-tuanya dengan mentaatinya. Para ayah tunduk kepada anak-anak dengan membesarkan mereka untuk mengenal Tuhan. Sama dengan hamba-hamba dan tuan-tuan.

Jadi, kehidupan rumah tangga Kristen mencerminkan kehidupan jemaat. Hubungan di dalam rumah tangga ini berdasarkan saling tunduk.  Dan ini berdasarkan hubungan Kristus dengan JemaatNya.

Saling tunduk antara istri dan suami mencerminkan tunduknya Kristus yang menyerahkan hidupNya untuk Jemaat (lihat juga Fil 2.1-11), dan juga tunduk Jemaat kepada Kristus. Dan kesatuan laki-laki dan perempuan yang menjadi satu daging di dalam pernikahan mencerminkan kesatuan Kristus dan Jemaat.

Lebih jauh dari ini, hubungan-hubungan lain di keluarga besar didasarkan atas saling tunduk yang sesuai satu sama lain. Menurut saya, tunduk atau merendahkan diri kepada seorang berarti menempatkan diri di posisi dapat melayani orang lain sesuai dengan hubungan anda dengan mereka.

3.3 Pernikahan sebagai Dasar Kesehatan Keluarga
Salah satu kesimpulan dari apa yang sudah kita lihat adalah bahwa adalah hubungan antara suami dan istri yang menyediakan kehidupan dan kesehatan kepada keluarga. Dalam ‘pedoman-pedoman kehidupan keluarga’, yang terpenting adalah hubungan yang hidup menurut kitab suci - bukan kegiatan-kegiatan, ataupun kemakmuran rumah tangga.

Kehidupan keluarga tumbuh dari kasih istri dan suami - pertama-tama untuk satu sama lain.  Kasih mereka mengasuh anak-anak mereka. Ini penting untuk dimengerti oleh orang tua karena ada godaan untuk orang tua menarik kehidupan mereka dari anak-anak (2 Kor 12.14).

4. Keluarga Kristen di dalam Maksud Allah
Apakah keluarga berada di pusat maksud Allah? Sejak Allah  mulai mengadakan perjanjian-perjanjian dengan manusia, Dia mengadakan perjanjian itu dengan keluarga-keluarga  - Nuh, Abram, Yakub.

4.1 Keluarga Allah
Janji-janji akan berkat dan keselamatan dijanjikan kepada pribadi-pribadi dan keturunan mereka. Pada setiap tahap kelompok yang menerima janji-janji itu menjadi bagian yang lebih kecil dari keluarga asal. Dari Abraham, janji diberikan kepada Ishak dan bukan kepada Ismael; kepada Yakub dan bukan kepada Esau. Kemudian di dalam suku Yehuda, Allah mengadakan perjanjian dengan Daud dan keturunannya.

Pada tahap ini kita dapat melihat lebih jelas bahwa Daud menjadi wakil atau tanda yang menunjuk kepada orang lain. Sesudah Daud dan Salomo, para nabi mulai berbicara tentang Daud lain - yaitu, salah satu keturunannya yang akan menyelamatkan rakyat.

Sebelum kelahiran Yesus,  Maria diberitahukan bahwa Yesus adalah orang yang akan merajai atas rumah Yakub dan diberikan takhta bapaknya, Daud (Luk 1.32,33). Akan tetapi ketika cerita berkembang sedikit demi sedikit, jelas bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi akan termasuk juga (Luk 2.29-32).

Rumah Yakub akan terbuka bagi orang-orang bukan Yahudi, sehingga yang mulai sebagai keluarga manusia biasa diubah menjadi keluarga Allah, dan yang mulai sebagai suku kecil terpilih menjadi seperti keluarga asal Adam.  Sebenarnya, itu adalah  keluarga Adam terakhir.

Paulus menggambarkan apa yang terjadi, di Efesus 2.11-22. Mereka, yang untuk beberapa saat menjadi orang luar dan bukan anggota keluarga atau bangsa Israel, didekatkan kepada Allah melalui darah Kristus. Dan kedua bagian besar dari manusia - orang Yahudi dan  orang bukan Yahudi - diciptakan satu manusia baru dalam Kristus. Kelompok baru ini adalah tubuh Kristus, umat Allah, rumah tangga Allah, rumah tempat Allah mendiami, bait Allah tempat Ia tinggal melalui RohNya.

Jadi keluarga Abraham yang membawa perjanjian diubah menjadi jemaat dimana janji-janji itu mencapai pemenuhan. Paulus mengacu kepada jemaat sebagai keluarga di Ef 3.14,15, dan berdoa bahwa di dalam kehidupan, para anggota dapat mempunyai sedemikian kasih satu sama lain agar mereka mengalami, dalam kehidupan bersama mereka, kehadiran Allah sendiri (Ef 3.16-19).

Keluarga manusiawi mempunyai kehidupan di dalam jemaat, tubuh Kristus, dimana janji-janji Allah dipenuhi dan dipraktikkan.

Jadi keluarga kini tidak di pusat maksud Allah, walaupun ditempatkan dimana maksud Allah dipenuhi, yaitu jemaat.  Keluarga bukan benda kekal, dan di surga tidak ada pernikahan (Mat 22.30).

4.2 Kerajaan Allah
Cara lain untuk mengerti ini, adalah sehubungan dengan pemerintahan Allah sebagai Raja di dunia. Ketika Yesus mulai mengajar dan berkhotbah, dia menjelaskan bahwa pemerintahan Allah sebagai Raja mendobrak ke dalam dunia saat Dia bersabda. Jelaslah bahwa dia adalah Raja. Dia memanggil orang-orang mengikuti dia. Yesus menempatkan ketaatan kepada dia sendiri lebih tinggi daripada ketaatan kepada keluarga (Mat 10.34-39; 12.46-50; Luk 9.59-61).

Pada saat yang sama dia mengharap murid-muridNya memenuhi hukum di keluarga mereka: tidak ada dendam dalam keluarga (Mat 5.21-24), tidak ada perzinahan atau keinginan untuk seorang lain (Mat 5.27-30), dan tidak ada perceraian (Mat 5.31-32).

Yesus mengharap murid-muridNya berkelakuan  seperti ini di dalam keluarga mereka, tetapi panggilanNya lebih tinggi daripada kehidupan keluarga.

4.3  Keluarga Kristen
Menurut Alkitab, keluarga adalah tempat manusia beranakcucu dan bertambah. Itulah tempat orang-orang diajarkan takut kepada Allah, dan belajar serta ingat apa Dia katakan (Ul 6.4-10).


Rumah tangga Kristen mempunyai peran penting sekali di maksud Allah, karena hubungan di rumah tangga juga hubungan dalam keluarga  jemaat. Dalam rumah tangga itulah beberapa segi dari kehidupan Allah harus diasuh.

Membesarkan anak-anak adalah tugas bagi rumah tangga. Mengajarkan anak-anak akan iman adalah tugas orang tua sebelum tugas jemaat. Hubungan di tempat kerja bagi keluarga yang mempekerjakan staf adalah tanggung-jawab keluarga sebelum  tanggung-jawab negara.

Jadi salah satu tugas penting sekali bagi pemimpin rumah tangga adalah pertama-tama mengerti apa keluarga mereka, dan bagaimana mencocokkannya dalam maksud Allah. Yang kedua mereka harus berusaha keras memajukan tugas-tugas utama keluarga:
·                Saling tunduk, yaitu saling berlaku dengan cara menerima pertanggung-jawaban penuh atas peran mereka yang berbeda.
·                Saling membangun dalam iman Kristus
·                Mengajar anak-anak mereka dan orang lain yang tinggal di rumah agar mereka dapat mengenal Kristus.
·                Memelihara kelakuan di rumah tangga yang sesuai dengan kesalehan dan ukuran yang diterima pada umumnya.
4.4 Keluarga dan Iman
Orang tua dan khususnya ayah itu bertanggung-jawab untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan untuk kehidupan keluarga - termasuk pertumbuhan rohani mereka.

1. Semua anggota rumah tangga dapat bersama-sama membagi iman sesungguhnya dalam Allah. Anak-anak tidak memerlukan pengalaman dewasa untuk mengimani Allah. Mereka beriman secara alamiah dan konkret. Yang kurang bukanlah iman, melainkan pengalaman mempraktikkan iman itu. Orang tua harus  membiarkan iman itu menjadi pintu menuju pengalaman, dengan membantu anak-anak menerapkannya di kegiatan sehari-hari. Tidak cukup bagi anak-anak berdoa pada waktu tidur. Bantu mereka juga berdoa dengan iman untuk hal-hal yang terkait dengan kehidupan mereka atau kehidupan keluarga (misalnya untuk adik yang sakit). Dengan cara ini mereka akan mulai melihat iman mereka bekerja dalam cara yang  spesifik dan konkret.

2. Orang tua berperan sebagai imam di keluarga. Mereka membawa kehidupan Allah kepada anak-anak, dan mereka membawa anak-anak kepada Allah. Peran dua arah ini sangat penting bagi kesehatan rohani keluarga. Orang tua harus menjadi pendoa syafaat untuk anak-anaknya maupun penyedia kehidupan Allah kepadanya.

3. Keluarga harus tidak hanya bergantung kepada Allah dalam iman.  Keluarga harus juga mengakui pertuanan Kristus atas setiap bagian kehidupannya. Harus menjadi keluarga yang tunduk, yang tunduk bersama atas semua rencana  dan sumber penghasilan kepada Yesus yang merupakan Tuhannya.

4. Jadi keluarga menjadi saksi. Hal ini menjadi pusat kemantapan, damai, dan kasih, karena kuasa kehidupan merupakan ketertarikan bagi orang lain. Keluarga memperlihatkan kasih Kristus  kepada dunia. Dan itu juga menjadi cara untuk orang lain mengalami kasih dan hidup Allah. (Adakah tempat atau waktu di keluarga anda untuk orang luar?)

5. Ada  banyak cara untuk menurunkan iman kepada anak-anak di rumah tangga. Anda tidak harus mendidik anak-anaknya dengan cara yang sama seperti orang lain.  Sebenarnya cara-cara yang dipakai akan berbeda-beda tergantung pada usia anak-anak. Kombinasi anak-anak di rumah akan juga mempengaruhi cara pendidikan tersebut dilakukan.  Sikap-sikap dan gaya hidup orang tua lebih penting daripada cara-cara tersebut. Kalau anda sendiri hidup di dalam hubungan yang benar dengan Allah, anak-anak akan mempelajarinya. Sayang, dengan status sekolah yang tinggi beberapa berpikir bahwa pendidikan di rumah seharusnya menjadi seperti di sekolah. Akan tetapi Alkitab menegaskan nilai pengajaran yang informal dan berhubungan di rumah (Ul 6.4-9). Sebenarnya cara ini mungkin adalah model yang lebih baik untuk pendidikan Kristen daripada model sekolah.

6. Salah satu konteks untuk asuhan anak-anak adalah jemaat. Anak-anak adalah bagian dari tubuh dan keluarga yang sama dengan orang tua Kristen mereka. Jadi, doronglah anak-anak untuk manjadi bagian dari pertemuan jemaat. Ijinkan orang lain melayani mereka. Dorong jemaat anda untuk menyambut anak-anak dan memperlakukan mereka sebagai anggota yang sama dalam tubuh.

4.5 Keluarga Besar
Di 1 Timotius 5 Paulus memberikan beragam pedoman  kepada berbagai orang di jemaat. Bagian dari pembahasan ini adalah tentang para janda (ay 3-16) dan siapa yang seharusnya mengurus mereka. Tidak semua harus dipedulikan - beberapa seharusnya menikah lagi. Janda yang perlu dipedulikan seharusnya diurus oleh para kerabat - anak-anak, cucu-cucu, dan yang lain (ay3-8, 16).

Ide utama adalah bahwa jemaat seharusnya tidak dibebani dengan orang yang dapat dibantu oleh keluarga mereka, sehingga jemaat dapat membantu orang yang sungguh-sungguh tanpa bantuan. Prinsip ini dapat diperluas dengan memasukkan bantuan jenis lain.

5. Rumah Tangga Kristen di Masyarakat Modern
Di karangan ini kita mencoba untuk mengerti sifat keluarga Kristen dan bagaimana mencocokkannya dalam maksud Allah. Kita sudah mengenali tugas utama anggota keluarga:
·                Saling tunduk, yaitu saling berlaku dengan cara yang menerima pertanggung-jawaban penuh atas peran mereka yang berbeda.
·                Saling membangun dalam iman Kristus
·                Mengajar anak-anak mereka dan orang lain yang tinggal di rumah agar mereka dapat mengenal Kristus.
·                Memelihara kelakuan di rumah tangga yang sesuai dengan kesalehan dan ukuran yang diterima pada umumnya.
Banyak dari tekanan pada keluarga yang dikenali di Bagian 1, melemahkan, dan di beberapa kejadian meruntuhkan kehidupan keluarga.

Orang tua khususnya, dan siapapun yang memberikan sumbangan ke kehidupan keluarga, dapat menolong memperkuat kehidupan rumah tangga Kristen.

Mereka dapat melakukan ini dengan:

Mengambil kembali pertanggung-jawaban. Di banyak kejadian orang lain sudah mengambil pertanggung-jawaban dari rumah tangga untuk hal-hal yang rumah tangga seharusnya melakukan yang terbaik. Di banyak kejadian ini dilakukan dengan persetujuan orang tua, oleh sebab orang tua merasa kurang perlengkapan, atau karena mereka tidak ingin, atau karena mereka diyakinkan. Beberapa hal diambil secara sembunyi, misalnya melalui media elektronik. Jadi ambillah kembali pertanggung-jawaban untuk mengajar iman, nilai-nilai, kelakuan, dan pandangan hidup Kristen.

Hidup bagi sesama, tidak bagi anak-anak. Kehidupan keluarga tergantung pada kasih orang tua satu sama lain. Hal ini tidak ditolong dengan membuat anak-anak sebagai pusat kehidupan keluarga, dan tidak dengan memfokuskan pada kemakmuran material. Anak-anak memerlukan kasih orang tua lebih daripada uang mereka.

Menyerahkan godaan dan khayalan. Keluarga sudah menjadi tanda pemberhalaan di bagian-bagian dunia modern. Kemasyhuran dan reputasi sebuah keluarga di masyarakat (terlihat pada umumnya pada pekerjaan atau sukses finansial dari orang tua, atau pada sukses akademis anak-anak) berdasar pada nilai-nilai yang tidak alkitabiah.

Menghadapi kesalahan, pengharapan yang keliru, dan keinginan yang salah. Mungkin kita merasa salah karena kita tidak membesarkan keluarga kita menurut pendapat orang lain, atau kita mungkin mempunyai tujuan yang salah. Mungkin kita ingin anak-anak kita menjadi apa yang kita inginkan. Atau mungkin kita  berharap anak-anak membuat hidup lebih mudah untuk kita. Kelompok perangkap ini dapat merupakan akibat pemikiran kita sendiri yang salah, atau mungkin akibat dari apa yang dikatakan orang lain kepada kita atau yang diharapkan dari kita. Di kedua hal, hadapi hal-hal tersebut dengan pertobatan dan penolakan.

Lakukan apa yang keluarga seharusnya lakukan:
·                Saling tunduk, yaitu saling berlaku dengan cara yang menerima pertanggung-jawaban penuh atas peran mereka yang berbeda.
·                Saling membangun dalam iman Kristus
·                Mengajar anak-anak mereka dan orang lain yang tinggal di rumah agar mereka dapat mengenal Kristus.
·                Memelihara kelakuan di rumah tangga yang sesuai dengan kesalehan dan ukuran yang diterima pada umumnya.
6. Memelihara Kesimbangan
Keluarga bukanlah konsep yang dapat diguna sebagai dasar untuk memutuskan antara semua permintaan dan pertanggung-jawaban. Kita perlu tingkat ketaatan yang lebih tinggi daripada keluarga.

Kita sudah melihat bahwa rumah tangga Kristen bukanlah benda yang berdiri sendiri, bukan kelompok kekal. Keluarga adalah  kelompok yang ditunjuk Allah yang di dalamnya karunia pernikahan dinikmati, dan anak-anak diasuh, dididik, serta dibesarkan.

Keluarga adalah salah satu dari beberapa kelompok kita berada, dan merupakan bagian jemaat. Orang-orang Kristen mempunyai pertanggung-jawaban dan panggilan lain yang tidak berhubungan langsung dengan keluarga manusiawi.

Keluarga tidak mempunyai prioritas tertinggi atas kehidupan Kristen kita.

Ketaatan yang lebih tinggi yang harus menjadi landasan semua pengambilan keputusan Kristen, adalah ketaatan kita kepada Yesus Tuhan. Dari ketaatan pertama itu, semua ketaatan mengalir:
·                Pelayanan kita sebagai murid Yesus
·                Keanggotaan dan pelayanan kita di jemaat
·                Kehidupan kita sebagai suami, istri, orang tua, atau anak
·                Kehidupan kita sebagai pekerja di dan warga di masyarakat .
Pada prinsipnya Yesus adalah Tuhan yang memanggil kita dan mengatur semua kehidupan kita, semua aspek yang ditentukanNya.

Secara praktis kita mengambil keputusan-keputusan ini melalui bimbingan:
·                Kitab suci
·                Roh Kudus
·                Para saudara
·                Pikiran logis kita
·                Keadaan
dan dengan banyak doa.

0 komentar:

Poskan Komentar