Minggu, 31 Oktober 2010

Peran gereja dalam masyarakat majemuk

Peran Gereja dalam kemajemukan Indonesia

PERAN GEREJA DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA
Deskripsi tentang Gereja di Indonesia
Untuk menegaskan peran gereja-gereja di Indonesia perlu dideskripsikan tentang realitas Indonesia. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa ada tiga faktor pokok yang berwarnai realitas Indonesia. 1. Kemajemukan beragama, 2. Kemajemukan budaya, dan 3.Kemiskinan.
1. Kemajemukan beragama:
Kemajemukan beragama terjadi karena di Indonesia ada berbagai macam agama. “Being religious in Indonesia is being interreligious.” Beragama di Indonesia berarti beragama bersama dengan umat beragama lain. Karena itu, dialog interreligious tidak dapat lagi dikatakan suatu pilihan, tetapi suatu keniscayaan untuk membangun Indonesia masa depan. Dalam berbagai kesempatan saya menegaskan bahwa dialog adalah cara dewasa dan cara cerdas menjadi Indonesia.
2. Kemajemukan budaya:
Kekristenan memuat dalam diri Kristus firman Allah yang telah menjadi manusia, dan diam di tengah kita. Inkarnasi firman menjadi pola inkulturasi. Agar benih firman berakar mendalam menjadi Indonesia, pembudayaan iman menjadi strategi untuk evangelisasi, pewartaan kabar suka cita bagi orang Indonesia, agar orang Indonesia berhati Kristus dan menampakkan wajah Kristus yang tidak asing bagi budaya majemuk di Indonesia.
3. Kenyataan kemiskinan
Kenyataan kemiskinan menjadi tantangan berat bagi perutusan murid-murid Kristus. Tantangan itu semakin berat karena kemiskinan pada zaman sekarang bersifat struktural, menjadi membuahkan ketidakadilan yang bersifat struktural pula. Gereja yang kita bangun seharusnya adalah Gereja orang-orang miskin, yang peduli dan peka pada mereka yang menjadi korban ketidakadilan struktural.
Karena itu, agar Gereja sungguh berperan di Indonesia, Gereja harus menjadi Gereja yang berdialog dengan umat berbagai agama, melalui budaya-budaya sebagai strategi, dan berpihak kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir dengan pemberdayaan, agar kabar sukacita Injil diwartakan.
Keprihatinan bersama
Agar Gereja sungguh berperan untuk mengubah realitas Indonesia sesuai dengan kehendak Tuhan, kerjasama merupakan keharusan. Kita telah membangun kerjasama tersebut untuk bisa bekerjasama dengan pemerintah Indonesia pada tingkat pusat maupun daerah. Saya mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang beberapa waktu yang lalu mengikuti Rapat Dengar Pendapat pada Komisi III DPR RI. Pokok-pokok gagasan saya, saya utarakan sbb.:
Selasa, 9 Februari 2010, mulai jam 14.00 diselenggarakan Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPR RI. Didampingi oleh teman dari Komisi HAK KWI dan beberapa teman Tim Advokasi Pembangunan Gereja Stasi Santa Maria Kota Bukit Indah – Purwakarta selaku Uskup Keuskupan Bandung dan Sekretaris Jendral Konferensi Waligereja Indonesia saya datang menyampaikan keprihatinan kami berkaitan dengan kerukunan hidup beragama.
1. Kita bersyukur bahwa hidup di Negara Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan UUD 1945, yang berasaskan Pancasila. Seharusnya seluruh warga negara memiliki logika konstitusional.
2. Namun, dalam kenyataannya kami mengalami keprihatinan mendalam berkaitan dengan kerukunan antarumat beragama, dan pendirian rumah ibadat.
3. Persatuan Bersama Dua Menteri No. 9/2006, No. 8/2006 diundangkan sebagai solusi terhadap keprihatinan tersebut. Namun, kenyataannya tidak.
4. Kenyataannya, pelaksanaan Peraturan Bersama Dua Menteri sangat ditentukan oleh oknum pemegang kekuasaan (jabatan pemerintah, jumlah, kekerasan). Sementara berkembang semangat komunalisme, sektarianisme, dan primordialisme. Kenyataan tersebut menjadi semakin menyedihkan ketika otonomi daerah dimengerti secara tidak tepat.
5. Peraturan Bersama tidak berdaya dihadapkan pada penguasa setempat, timbullah berbagai kasus di berbagai tempat.
Demikianlah dengar pendapat pada Rapat Komisi III DPR RI.
Gereja signifikan dan relevan
Masih saya ingat betul apa isi pokok pembicaraan almarhum Bp. Eka Dharmaputra tentang peran Gereja di Indonesia yang saya dengar ketika menyampaikan pemaparannya dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2005.
Dua kata kunci: signifikan, dan relevan. Kalau Gereja hendak sungguh berperan di Indonesia, maka Gereja harus signifikan dan relevan. Signifikan berarti bahwa Gereja harus bermaknya bagi umatnya sendiri. Karena imannya umat bertumbuh semakin dewasa dalam Kristus. Dan, Gereja juga harus relevan. Relevan berarti bahwa Gereja juga harus bermakna bagi kehidupan Indonesia. Kehadirannya tidak menjadi ancaman, tetapi menjadi berkah.
Terinspirasi dari sikap orang Samaria yang baik, umat Kristiani seharusnya bersikap sama terhadap sesamanya. Jalan dari Yerusalem adalah jalan tidak peduli, acuh tak acuh terhadap korban. Sebaliknya jalan dari Yeriko ke Yerusalem adalah jalan kepedulian, yang ditunjukkan oleh orang Samaria terhadap korban.
Hidup kita adalah suatu perjalanan. Kita berjalan bersama dengan yang lain, sesama kita. Semoga dalam perjalanan hidup ini kita memiliki hati yang mudah tergerak oleh belaskasihan kepada sesama kita.
Selamat ber-Sidang selama hari-hari Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.
Dalam terang firman Tuhan, “Tuhan itu baik kepada semua orang” (Mzm 145:91)
Strategi: Bersama-sama Seluruh Komponen Bangsa, Mewujudkan Masyarakat Majemuk Indonesia yang Berkeadaban, Inklusif, Adil, Damai dan Demokratis.

0 komentar:

Poskan Komentar